Gejolak di 6 Negara Amerika Selatan

Gejolak di 6 Negara Amerika Selatan – Berita bahwa Presiden Bolivia Evo Morales mengundurkan diri di tengah skandal pemilu menyoroti kenyataan getir tentang Amerika Selatan. Meskipun benua ini telah membuat langkah ekonomi besar dalam beberapa tahun terakhir, kawasan itu sering kali terganggu oleh kerusuhan politik dan sipil.

Gejolak di 6 Negara Amerika Selatan

c3fes – Dengan lebih dari 425 juta orang, negara-negara Amerika Selatan adalah di antara produsen dan pengekspor daging sapi dan kedelai terbesar di dunia (Brasil), minyak (Venezuela), kopi (Kolombia), anggur (Argentina dan Chili), tembaga (Chili dan Peru) dan gas alam (Bolivia).

Tetapi Amerika Selatan juga telah lama dikenal karena ketidakstabilan politik dan ketegangan kebijakan publik.

Pada abad yang lalu, beberapa negara Amerika Selatan menghadapi kudeta, kediktatoran militer dan pemberontakan sosial.

Kini, sejak beberapa bulan terakhir, kawasan itu telah menunjukkan rangkaian gejolak yang hampir tidak pernah terjadi di masa lalu.

Mengutip dari liputan6, Berikut 6 negara Amerika Selatan yang tengah bergolak, beserta sejumlah faktor penyebab yang memicu instabilitas tersebut.

Baca juga : Kasus Covid-19 di Amerika Selatan Tembus 4 Juta, Brasil Paling Banyak

1. Venezuela: Politik dan Ekonomi

Darurat politik serta ekonomi di Venezuela sudah menyebabkan musibah manusiawi yang diketahui di semua bumi.

Mulai dari pergulatan kewenangan antara Kepala negara Nicolas Maduro dengan kepala negara interim Juan Guaido, hiperinflasi sampai 10 juta persen pada 2019 sampai pinjaman luar negara yang menumpuk cumalah sedikit permasalahan di balik, kelesuan ekonomi sampai penggelapan yang sudah melaten semenjak berdekade dahulu.

2. Paraguay: Afeksi pada Kebijaksanaan Pemerintah

Paraguay sudah hadapi keluhan megah kepada Kepala negara Mario Abdo. Orang Paraguay marah mengenai perjanjian dengan Brasil Mengenai generator listrik daya air Itaipu yang dikira mudarat negara yang lebih kecil.

Bersumber pada survey, tingkatan ketidaksetujuan khalayak kepada penguasa menggapai 69 persen, dengan antagonisme sudah mengawali cara pemakzulan kepada Abdo serta delegasi presidennya yang nyaris berakhir era jabatannya.

Pemakzulan terjalin cuma 7 tahun sehabis mantan kepala negara Fernand Lugo sendiri dimakzulkan pada tahun 2012 di tengah bentrokan tanah yang menyebabkan 17 orang berpulang.

3. Peru: Bentrokan Percepatan Pemilu

Di Peru, Kepala negara Martin Vizcarra sudah membubarkan kongres dalam usaha buat mendesakkan penentuan parlemen terkini.

Tindakannya sudah menciptakan sebagian unjuk rasa di semua negara, tercantum yang membatasi akses ke tambang tembaga serta menimbulkan penciptaan menyudahi.

Vizcarra merupakan delegasi kepala negara hingga tahun kemudian, sehabis mantan kepala negara Pedro Pablo Kuczynski mengundurkan diri sebab mungkin koneksi dengan kasus penyuapan yang mengaitkan industri arsitektur Brasil Odebrecht. Kepala negara Peru yang lain, Alan García, bunuh diri April kemudian kala polisi datang di rumahnya buat membekuknya sebab ikut serta dalam permasalahan yang serupa.

4. Bolivia: Bentrokan Bentrokan Hasil Pemilu

Bolivia pula hadapi gelombang unjuk rasa megah. Pihak antagonisme tidak menyambut hasil penentuan biasa baru- baru ini, yang membagikan kemenangan pada Kepala negara Evo Morales pada putaran awal pemungutan suara buat era kedudukan keempatnya.

Mengetuai negara itu semenjak 2006, Morales menyambut audit suara dari Badan Negara- negara Amerika( OAS), yang menciptakan kalau hasil penentuan Oktober tidak bisa disahkan sebab” penyimpangan sungguh- sungguh.” Ia memublikasikan kalau ia hendak menyudahi” untuk kebaikan negara.”

Semenjak penentuan, jalur ditutup di semua negara serta kekacauan tiap hari merupakan teratur. Santa Cruz, provinsi paling kaya di Bolivia, lagi hadapi pemogokan biasa yang lagi berjalan.

5. Ekuador: Pembatalan Bantuan BBM

Di Ekuador, Kepala negara Lenin Moreno menarik bantuan materi bakar, yang diberlakukan semenjak tahun 1970- an, sebab perjanjian dengan Anggaran Moneter Global( IMF).

Harga materi bakar sudah meroket, mengompori keluhan megah yang mematahkan bagian negara itu pada Oktober.

Moreno mendakwa pendahulunya, Rafael Correa, serta Kepala negara Venezuela Nicolás Maduro terletak di balik unjuk rasa, yang bersinambung apalagi sehabis kembalinya bantuan.

6. Chile: Afeksi pada Kebijaksanaan Pemerintah

Chile, negara Amerika Selatan dengan indikator pembangunan orang paling tinggi serta salah satu PDB per jiwa paling tinggi di area itu, mengalami gelombang luapan khalayak terbanyak semenjak re- demokratisasi bangsa pada tahun 1990.

Pemicunya merupakan melonjaknya jumlah warga, bayaran pemindahan serta gugatan listrik pada dini Oktober.

Permasalahan yang berhubungan dengan pembelajaran, mayoritas bertabiat individu serta mahal, serta pesangon pensiun mengakibatkan banyak kekacauan di Chile, spesialnya di golongan anak muda serta orang berumur. Keluhan itu sudah menyebabkan sekurang- kurangnya 20 kematian serta ribuan yang lain luka di tengah dakwaan kekerasan yang disetujui negara.

Kesimpulan

Kekacauan yang bangun di Amerika Selatan mempunyai sebagian kecocokan dari satu negara ke negara lain.

Beberapa besar diawali sebab pemicu kecil, semacam ekskalasi biaya bis ataupun sepur dasar tanah, namun berhubungan dengan permasalahan kebijaksanaan khalayak yang lebih besar semacam penggelapan, akses ke pembelajaran, pemeliharaan kesehatan ataupun pesangon pensiun.

Baca juga : Pemilu Amerika: Bagaimana Joe Biden mengubah kebijakan luar negeri

” Permasalahan ekonomi sudah memainkan kedudukan berarti dalam ketidakpuasan yang menyebar di Amerika Selatan,” tutur Lenin Cavalcanti Guerra periset di University of Saskatchewan, dalam artikelnya buat the Conversation.

Penanda ekonomi yang kokoh dari sebagian tahun terakhir di Amerika Selatan sudah melemah. Banyak negara saat ini mengalami ekskalasi PDB yang kecil serta pengangguran yang besar.

Kekacauan di Amerika Selatan telah dibanding dengan Masa Semi Arab( Arab Spring_, gelombang unjuk rasa pro- demokrasi di Afrika Utara serta Timur Tengah.

Pada 2010 serta 2011, Masa Semi Arab mengakibatkan tumbangnya rezim otokratis di Mesir, Tunisia serta Libya, serta menciptakan perang kerabat di Yaman.

Walaupun terdapat kecocokan, negara- negara Amerika Selatan beberapa besar demokratis, apalagi bila sebagian dari kerakyatan itu lemah. Susunan pemilu di Amerika Selatan terkini sudah memandang pemilih berjuntai antara partai- partai kapak kiri serta kanan.

Minggu- minggu selanjutnya hendak memastikan akibat unjuk rasa beramai- ramai di Amerika Selatan ini. Terbebas dari jumlah kekayaan alam di area itu, ketidakstabilan di Amerika Selatan biasanya diperoleh oleh darurat ekonomi, yang menciptakan tipe keluhan awam megah yang kita lihat saat ini.